Oleh : Ridho el-Farizi
Siang yang begitu menyengat. Birunya langit sangat cemerlang. Terik matahari menembus bata-bata hingga melumat kulit yang semakin lama kian bermandikan peluh. Pun dengan kedua mata Buyung yang sangat tersilaukan sinarnya. Tatapan hanya tertuju pada ilalang yang tumbuh di depan rumahnya. Deburan ombak menjadi setting dramatis pelamunan itu. Di dekat daun pintu yang terbuka, ia bersila dengan sebuah bekal perenungan. Selayaknya daun pintu, Buyung dan keluarga pun terbuka dengan segala pelajaran yang sedang diujikan dalam hidupnya.
Sesekali angin mengecup halus. Membawa sebuah arti penting dalam apa yang dijalaninya, kesegaran. Kesegaran jiwa, kesegaran berpikir, dalam kesegaran hidup tentunya. Merubuhkan rumah yang ia diami saat ini adalah kemustahilan. Namun ia merasa keniscayaan. Karena dalam hitungan detik saja, bila ada Yang Maha Berkehendak, rubuh sudah atap yang menaungi diri dan keluarganya.
Minggu lalu, Rama, seorang kawan dari Jawa bertandang ke rumah ini. Ia sangat girang dengan pemandangan menawan desa ini. Desa dengan pantai yang menakjubkan. Pasir putih, lambaian nyiur, dan deretan perahu nelayan adalah kesan pertama darinya. Maka mereka menyusuri garis pantai dari hulu ke hilir. Bermain dengan karang yang berdiri megah. Karang yang melahirkan sebuah mitos angker di desa ini. Maka jangan berbicara yang macam-macam disana.
Sore hari, mereka dihanyutkan dalam kesegaran degan yang langsung diambil dari pohonnya di belakang rumah Buyung. Plus gula aren, minuman khas suasana pantai sungguh membuat desa ini menjadi kenangan tak terlupakan bagi Rama. Rama senang bermain dengan sapi di kebun sawit yang berjajar rapi di belakang rumah. Ia juga mengaku berwisata kuliner disini. Aneka ragam olahan yang berbahan dasar ikan muncul di depan wajahnya. Tak satupun unsur sayuran ataupun daging lainnya. Mengagumkan karena satu ikan tenggiri saja disulap menjadi beragam masakan, namun sekaligus menyedihkan karena Rama tak memakan ikan. Ia benci ikan, vonisnya.
Namun satu hal yang paling berbekas dalam diri Rama. Ketika itu malam hari. Suasana panas dimanfaatkan semua keluarga Buyung bercengkrama dengan Rama. Bapak Buyung mengaku bahwa baru kali ini ada orang yang anti dengan ikan. Rama pun tak mau kalah, menyangka bahwa ini kali pertamanya menemukan sebuah keluarga yang hanya mengkonsumsi ikan. Setiap hari makan ikan. Beragam ikan diolah menjadi beragama masakan khas Sumatra yang pedas. Wajar saja, bapak Buyung seorang nelayan. Nelayan yang berbekal perahu kecil yang menangkapi ikan hanya untuk dikonsumsi, bukan untuk dijual.
Bapak adalah nelayan ulung. Tak berang dengan deburan gelombang Samudera Hindia. Ke tengah lautan hanya dengan sebuah perahu kecil yang muat untuk empat orang saja. Namun bapak sering pergi sendiri. Membawa perbekalan untuk satu hari. Shalat di tengah samudera yang tak tentu arah kiblatnya karena tak ada kompas. Gelombang ia terjang. Namun apabila gelombang tak bisa berkompromi saat ia hendak kembali di bibir pantai. Tak jarang Bapak memutuskan kembali ke tengah laut atau berdiam menunggu ombak menjinak.
Malam itu juga, saat berbincang. Foto Bapak dan Emak bergoyang. Lampu yang tergantung bebas pun ikut bergerak. Bumi bergetar secara halus dan perlahan. Rama panik. Ia pikir ini gempa yang cukup besar karena dapat menggoyangkan seluruh benda di rumah. Ia heboh, beranjak dari duduk silanya. Bergegas keluar rumah. Wajahnya mendadak pucat. Setelah ia berada di luar rumah, ia masih merasakan getaran akibat perkelahian lempengan bumi ini.
Namun ia kaget. Bukan karena gempa yang baru saja ia rasakan. Namun dengan suasana sekitar. Tetangga di sebelah rumah bahkan pemilik rumah yang sedang ia kunjungi, sama sekali tak beranjak dari duduknya. Sama sekali tak ada reaksi penyelamatan. Tak ada sedikit pun suara teriakan sebagaimana orang kalut dan tegang. Bahkan untuk menampakkan wajah panik atau khawatir pun tak ada.
Rama celingukan. Kembali ke dalam rumah Buyung. Menatap satu persatu keluarga Buyung. Apakah ada mimik ketakutan dan kaget? Tidak. Yang ada malah mereka tertawa melihat reaksi Rama. Apa ada yang salah, batin Rama. Hanya gempa kecil kah? Tidak juga. Ia menduga gempa tersebut berkisar 5 pada skala richter. Bahkan dinding rumah Buyung yang masih tampak retak-retak akibat gempa lalu ikut bergetar dan khawatir ada materialnya yang ikut terjatuh. Ya, Buyung dan keluarganya malah menertawakan Rama.
“Dek Rama, yang itu hanya getaran biasa. Hanya menggoyangkan tubuh kita. Paling-paling hanya satu rumah di desa ini ambruk. Tak perlu panik, kami terlalu sering tertipu oleh apa yang kami lakukan sendiri. Nyatanya gempa hanya menggertak. Allah terlalu cinta pada kami. Ia hendak memuji kesabaran kami,” ungkap Bapak.
Rama menenangkan perasaannya yang baru saja sedikit terguncang. Ia mengaku ingat mama-papanya di Jawa, takut menjadi korban musibah gempa Bengkulu. Apalagi di depan mata, gelombang nyata bergemuruh. Bila terlampau hebat, bisa jadi samudera mengamuk dan mengejar mereka dalam hitungan detik.
“Tenang saja, Ram. Beberapa ratus meter dari sini ada ladang sawit yang lebih tinggi. Kiranya superombak enggan melumat kita hingga kesana. Mungkin,” tutur Buyung menakut-nakuti.
Rama makin pucat. Apa mungkin dalam hitungan detik atau menit, ia kembali digetarkan. Baru saja hari pertama ia berlibur disini, ia sudah disuguhi-Nya dengan sedikit kekuatan-Nya. Buyung menepuk bahu Rama mengisyarakat agar ia yakin tak terjadi apa-apa malam ini. Senyum Buyung sekeluarga adalah jaminan bahwa ia akan tidur nyenyak malam ini.
Nyatanya, Rama terjaga sepanjang malam. Jantungnya berdebar-debar. Mencoba menghitung domba dalam pikirannya agar ia segera terlelap. Nihil. Seolah-olah ia melihat lampu terus bergoyang. Ranjang ikut bergoyang. Sepertinya bumi kembali berdetak. Melihat Buyung dapat melepas lelap. Apa ia tak khawatir akan terjadi sebuah getaran susulan, batin Rama. Mata Rama terbuka hingga fajar menjelang.
***
Ya, itulah yang hadir dalam lamunan Buyung siang ini. Setiap helaan nafasnya menyiratkan rasa cinta pada desanya sendiri. Tak mungkin, kapan, entahlah bumi bergetar lagi. Membuat warga menjadi kalut dalam batinnya sendiri. Mengoyak-ngoyak perasaan mereka. Membuat takut anak-anak kecil yang senang membantu ibu bapaknya di ladang. Memanen sawit atau menyadap karet. Atau senantiasa menunggu bapaknya pulang dari lautan membawa tangkapan yang banyak.
Apakah Rama senang dengan liburannya disini. Pasti senang, batin Buyung. Ia akan belajar pada manusia di sini. Mengarifi alam dengan jiwa yang lapang. Atau hanya sebuah kebosanan menghadapi ujian. Entahlah, Buyung hanya melamun. Rama pasti bercerita pada tetangga dan kawan di desanya. Betapa desa ini terlihat indah. Dengan pemandangan pantai barat Sumatera. Dengan orang-orangnya yang tabah menghadapi sebuah ujian panjang.
Tentu ia akan mendeskripsikan keadaan alam disini. Pasir putih yang kemilau. Panorama mentari terbit dan kemudian tenggelam. Ombak yang gagah. Rumah-rumah penduduk yang berukir tak karuan. Entah pahatan corak mana. Sesekali nampak rumah berornamen khas, kusen jendela ditutupi plastik, dinding yang berkolaborasi antara bata dan kayu. Bahkan ada yang sedikit condong ke barat, timur, utara, atau selatan.
Ada pula rumah tua tak berpenduduk. Tua, karena sudah lama ditinggal penghuninya. Dibiarkan rumah itu hanya berupa puing-puing yang akan dijadikan monumen pengingat sebuah peristiwa. Bahkan infrastruktur disini bervariasi dan unik. Ada saja jalan aspal yang sengaja dibelah. Sengaja? Ya, karena semenjak tak sengaja terbelah, jalan aspal itu tetap dibiarkan terbelah hingga sekarang. Mungkin mengandung estetika, sehingga tak ada yang bergairah untuk memperbaikinya seperti semula.
Bahkan Rama akan mengira, penduduk di sini terlampau tabah. Bahkan berkesan pasrah. Menghadapi guncangan saja tak bereaksi. Padahal Buyung tahu pasti, sebetulnya hati manusia di sini lebih berguncang dari apa yang Rama pikirkan. Betapa tidak. Berkali-kali mereka harus rela melihat harta mereka terkubur di siang bolong. Berapa kali mereka harus tergopoh-gopoh menuju ladang atau bebukitan nun juah di sana. Bahkan menghitung jari sendiri, di detik ke berapa pula rumah mereka retak dengan sempurna.
Ah, ternyata lamunan Buyung terlalu panjang. Sampai ia bergumam sendiri di tengah kekosongan. Meratapi siang yang penuh dengan ceria. Ia tak tahu, apa yang dapat memulihkan manusia di sini. Kembali percaya bahwa alam tak sedang bermain-main. Ingin sekali ia dapat meyakinkan bahwa ini hanya sekadar ujian, dan jangan sampai berubah menjadi teguran. Manusia di sini enggan percaya itu. Enggan.